Kisah Sukses Tinnitus Amadea

Hallo siapa namamu? Boleh tau juga berapa usiamu?

Hallo, saya Amadea, gadis berusia 21 tahun

Bisa ceritakan sedikit kondisimu? Berapa lama kamu kena tinnitus? Gejala apa yang kamu rasakan? Apakah suaranya muncul terus menerus atau seperti apa?

Saya sudah berkawan dengan tinnitus dikedua telinga saya sekitar 1,5 tahun. Suara tersebut terus-menerus ada, bahkan saat saya tidur ia tidak hilang. Tentu beberapa kali saya mendapati masa-masa sulit karenanya.

Bagaimana kejadian awal kamu merasakan tinnitus? Apakah ada hal khusus yang mengakibatkannya? Apakah kamu bisa menceritakan (atau menebak) penyebabnya?

Awalnya saya tidak menyadarinya, saya berpikir orang lain juga mendengar hal yang sama bila suasana sepi. Tak jarang saya menyangka bising tersebut merupakan suara yang ditumbulkan oleh sound system di kelas kuliah saya, hingga akhirnya saya sering bertanya ke teman saya “Apakah kamu mendengar suara sesuatu? seperti suara dari microphone?.” Tak jarang saya meminta orang lain mengulang perkataan mereka karena saya tidak mendengar dengan jelas perkatannya mereka. Pada akhirnya saya menyadari bahwa suara tersebut hanya saya yang mendengarnya setelah sekitar 6 bulan tinnitus tersebut ada.

Hingga saat ini masih terdapat dua kemungkinan kondisi yang menyebabkan tinnitus saya, salah satunya adalah noise induced hearing loss (NIHL). Namun dokter menyampaikan bahwa ada kemungkinan terdapat gangguan di sentral yakni batang otak saya. Kedua kondisi tersebut hingga saat ini masih sulit untuk ditemukan terapi pengobatannya.

Bagaimana tinnitus ini mempengaruhi kehidupanmu pada awal terkena? Apa dampak yang kamu rasakan saat itu?

Tentu beberapa kali saya denial terhadap hal tersebut. hingga membuat saya terlambat ke dokter. Hal tersebut mengganggu terutama saat malam hari yakni menjelang tidur. Saya banyak menangis, tak jarang ada fase dimana saya ingin keluar dari kepala saya sendiri untuk menghindarinya.

Banyak pikiran yang muncul, terutama mengenai masalah masa depan saya, mimpi-mimpi saya. Karena saya belajar di bidang medis, mengharuskan saya menggunakan fungsi pendengaran saya, hal tersebut masih sering mengusik saya. Namun, saya terus berusaha untuk tidak mengkhawatirkannya dan terus berusaha.

Tuhan selalu punya rencana terbaik-Nya untuk saya.

Apakah kamu telah memeriksakan kondisimu? Kepada siapa saja kamu memeriksakan kondisimu? Langkah perawatan atau hal apa saja yang mereka tawarkan?

Sudah, saya telah berkonsultasi pada tiga dokter spesialis THT. Sayangnya untuk kondisi saya memiliki prognosis yang kurang baik. Hingga saat ini tidak ada yang benar-benar bisa menyembuhkan kondisi saya tersebut. Ada sebuah opsi yang paling mungkin bagi saya, yakni bedah.

Apakah kamu mencoba perawatan alternatif, perubahan pola makan (diet) atau perubahan gaya hidup? atau mencoba metode perawatan lain yang tidak ditawarkan oleh dokter? Apakah kamu merasa langkah ini cukup berhasil?

Tidak, saya kini tidak melakukan perawatan apapun untuk kondisi saya tersebut

Pernahkah kamu melakukan sesi konseling atau terapi? Pernahkan kamu melakukan terapi suara tinnitus (TRT) atau terapi psikologis (CBT) secara khusus? Apakah terapi ini cukup efektif?

Saya mencoba terapi suara tinnitus beberapa kali. Untuk sesaat setelah terapi hal ini cukup efektif mengurangi intensitas besarnya suara yang terdengar.

Bagaimana akhirnya kamu mulai bisa menghadapi tinnitus? Apakah kamu merasa bahwa sekarang kamu bisa menghadapi tinnitus dengan lebih baik dari pada saat awal kamu terkena? Apa dampak tinnitus kehidupanmu sekarang?

Ya. Setelah menerima kondisi yang dialami namun sesekali masih melakukan terapi akupuntur, lebih banyak relaksasi, dan menyibukkan diri dengan hal yang disenangi, hidup berdampingan tinnitus sudah lebih dapat dengan lebih ringan dijalani.

Satu-satunya cara untuk menghadapi tinnitus adalah menerimanya, menjadikannya teman. Hal tersebut membuat saya tak begitu terusik dan bisa menjalani aktivitas lainnya dengan baik. Hal positive yang saya dapatkan dari tinnitus ialah saya belajar menghargai segala nikmat Tuhan yang diberikan ke saya.

Akhir-akhir ini apa yang kamu lakukan untuk mengelola atau tinnitusmu? Apa yang kamu lakukan kalau merasakan tinnitus yang memburuk?

Melakukan aktivitas lain adalah salah satu kuncinya. Berbincang dengan keluarga, kolega, mengerjakan aktivitas lainnya membuat fokus bisa dialihkan pada hal-hal lain sehingga keluhan tinnitus akan berkurang.

Apakah kamu percaya saat ini ada cara yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan tinnitus? Apakah ada hal lain yang ingin kamu sampaikan atau ceritakan?

Saya berharap mimpi-mimpi saya tidak akan terusik oleh kondisi saya. Saya berharap, orang-orang dapat lebih aware dengan permasalahan tinnitus, sehingga tidak ada lagi “saya” yang lain. Karena gangguan pendengaran masih sangat kurang diperhatikan, hidden disability. Semoga isu gangguan pendengaran bisa lebih disadari lagi. Hargailah sepi sunyi selagi kamu bisa menikmatinya.

Kisah Sukses Tinnitus Amadea

Disclaimer :

Setiap cerita di blog ini merupakan pengalaman personal masing-masing kontributor. Pengalaman personal tidak dapat serta merta dijadikan acuan dalam melakukan tindakan yang berkaitan dengan kesehatan. Setiap tindakan yang berkaitan dengan kesehatan hendaknya dikonsultasikan dengan dokter ataupun ahli kesehatan yang memiliki kompetensi dibidangnya masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *