Kisah Sukses Tinnitus Digna

Hallo siapa namamu? Boleh tau juga berapa usiamu?

Digna, 26

Bisa ceritakan sedikit kondisimu? Berapa lama kamu kena tinnitus? Gejala apa yang kamu rasakan? Apakah suaranya muncul terus menerus atau seperti apa?

Hai, sudah setahun aku harus berjuang hidup ditemani Tinnitus. Aku tidak tau pasti penyebab utamanya, tapi yang jelas semua terjadi sangat cepat. Dimulai dari Vertigo, Sudden Deafness, kemudian Tinnitus. Dan yup, suaranya setia berbunyi terus menerus sampai detik aku menulis ini. Dia terasa diam hanya jika aku tidur. But that’s fine 🙂

Bagaimana kejadian awal kamu merasakan tinnitus? Apakah ada hal khusus yang mengakibatkannya? Apakah kamu bisa menceritakan (atau menebak) penyebabnya?

Teringatku aku sangat kelelahan, masuk kamar yang sebelumnya sedikit pengap dan gelap krn AC dan lampu ga dihidupkan, dan duduk langsung liat Hp. Eh pas berdiri goyang gak karuan – alias Vertigo disertai muntah. Disaat itu juga aku rasa pendengaranku berkurang dan menyadari ada suara yang annoying di telinga. Dokter selalu bilang penyakit ini Idiopatik, alias tidak bisa dipastikan penyebabnya. Tapi aku bisa menerka semua karena pola makanku (kolesterol 230), sering begadang, kebiasaan korek kuping, dan pakai headset non stop dijalan dan di kantor. Merepitisi kebiasaan jelek itu akhirnya menghadiahkanku sakit ini.

Bagaimana tinnitus ini mempengaruhi kehidupanmu pada awal terkena? Apa dampak yang kamu rasakan saat itu?

1 kata : Stress. Itu saja ya cukup menggambarkan tahun lalu.

Apakah kamu telah memeriksakan kondisimu? Kepada siapa saja kamu memeriksakan kondisimu? Langkah perawatan atau hal apa saja yang mereka tawarkan?

Tentu saja. Karna diawali dengan vertigo, aku sempat ke dokter saraf terlebih dulu. Kemudian aku mencoba ke berbagai dokter THT sampai akhirnya menambatkan pilihan ke RS THT Proklamasi. Dengan kondisi Deafness yang cukup parah, aku harus menjalani rawat inap seminggu dengan perawatan suntik steroid serta ikut terapi Hiperbarik 10x. Untuk Tinnitus, aku mencoba berbagai2 ramuan tradisional serta ikut akupunktur di klinik (dokter ya bukan sinshe). Banyak hal2 kecil juga aku coba sejak bergabung di Grup FB/WA Tinnitus. Meski tidak signifikan berkurang, tapi saat ini lebih baik.

Apakah kamu mencoba perawatan alternatif, perubahan pola makan (diet) atau perubahan gaya hidup? atau mencoba metode perawatan lain yang tidak ditawarkan oleh dokter? Apakah kamu merasa langkah ini cukup berhasil?

Pola makan tentu, tidak lagi menyentuh seafood. Gaya hidup tentu, alias lebih memperhatikan kondisi badan. Kalau lelah ya segera istirahat – jangan dipaksa! Metode perawatan lain hanya tradisional seperti meniupkan panas api ke telinga. Hanya merasa lebih enakan, namun denging tetap ada.

Pernahkah kamu melakukan sesi konseling atau terapi? Pernahkan kamu melakukan terapi suara tinnitus (TRT) atau terapi psikologis (CBT) secara khusus? Apakah terapi ini cukup efektif?

Belum. Hanya pernah terapi Hiperbarik, namun sepertinya itu efektifnya untuk Sudden Deafness.

Bagaimana akhirnya kamu mulai bisa menghadapi tinnitus? Apakah kamu merasa bahwa sekarang kamu bisa menghadapi tinnitus dengan lebih baik dari pada saat awal kamu terkena? Apa dampak tinnitus kehidupanmu sekarang?

Berjalan dengan sendirinya. Tapi kalau boleh dipastikan saat vertigo dan sakit kepala ku benar-benar hilang. Setidaknya saat itu satu permasalahanku selesai, baru akhirnya fokus dengan menerima kondisi Tinnitus. Sharing dengan penderita tentu sedikit mengobati, namun yang benar-benar nyata adalah ketika kamu coba menjalani aktivitas normalmu ditemani Tinnitus ini. Kamu akan menemukan titik dimana kamu ternyata masih hidup baik-baik saja. Rasanya memang berbeda, tapi.. Ah masih hidup ini 🙂

Akhir-akhir ini apa yang kamu lakukan untuk mengelola atau tinnitusmu? Apa yang kamu lakukan kalau merasakan tinnitus yang memburuk?

Jawabannya hanya memahami apa yang dibutuhkan tubuhku. Kalau dirasa makan gak bener aku akan memperbaiki dengan konsumsi lebih banyak sayur buah, atau kalau kolesterol mulai naik ya langsung minum obat. Kalau dirasa tubuh lelah, langsung istirahat gak pake kompromi. Sejauh ini yang aku rasa ketika badan terlalu di forsir, Tinnitus akan terasa lebih “bandel”. Satu lagi, menjauhi penggunaan headset dan tidak terlalu sering bersentuhan langsung dengan suara bising seperti menonton konser dengan audio kencang, menonton bioskop, etc.

Apakah kamu percaya saat ini ada cara yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan tinnitus? Apakah ada hal lain yang ingin kamu sampaikan atau ceritakan?

Aku berinteraksi dengan banyak dokter dan tidak ada yang berani meyakinkanku kalau Tinnitus bisa sembuh, karena dalam skala Internasional belum ada satupun obat pasti yang bisa menyembuhkannya. Kalau sudah begini, aku hanya menjaga pola aktivitas tubuhku kemudian mengandalkan mukzizat Tuhan.

Kisah Sukses Tinnitus Digna

Disclaimer :

Setiap cerita di blog ini merupakan pengalaman personal masing-masing kontributor. Pengalaman personal tidak dapat serta merta dijadikan acuan dalam melakukan tindakan yang berkaitan dengan kesehatan. Setiap tindakan yang berkaitan dengan kesehatan hendaknya dikonsultasikan dengan dokter ataupun ahli kesehatan yang memiliki kompetensi dibidangnya masing-masing.

1 thought on “Kisah Sukses Tinnitus Digna”

  1. Saya mengalami Telinga berdenging sudah 7 tahun namun belum sembuh juga sampai sekarang, dengingnya makin kerass…mohon bantuannya teman2 grub tinnitus indoneaia…🙏🙏😔

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *