Mengapa Tinnitus Masih Menjadi Tanda Tanya Ilmu Pengetahuan

Tinnitus merupakan bunyi denging, degung, desis, yang tidak diinginkan yang terdengar di telinga, tanpa adanya sumber bunyi. Bagi beberapa orang tinnitus dapat dialami sesaat saja, sedangkan bagi beberapa orang yang lain, kondisi ini dapat menjadi permanen. Walaupun pada kebanyakan kasus tinnitus dialami oleh orang dewasa, namun pada kenyataannya tinnitus dapat terjadi pada segala jenis usia, termasuk usia muda.

Mengapa tinnitus masih menjadi teka-teki?

Tinnitus masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan karena para riset belum bisa memastikan kondisi yang dapat mencetuskan tinnitus. Dilansir dari ata.org, terdapat lebih dari 200 kondisi yang disinyalir berhubungan dengan tinnitus atau menimbulkan tinnitus. Berikut kondisi umum yang sering dilaporkan berhubungan atau menjadi pencetus terjadinya tinnitus:

* Hearing Loss atau Penurunan Pendengaran (sudden, age-related, noise exposure)

* Gangguan pada telinga bagian tengah

* Trauma pada kepala dan leher

* Temporomandibular Joint Disorder

* Permasalahan pada rongga hidung (sinus) dan tekanan udara

* Trauma Otak

* Penggunaan obat-obatan yang bersifat toxic pada telinga

* Penyakit lain seperti :

* *Gangguan metabolisme tubuh

* *Gangguan autoimun

* *Gangguan aliran darah

* *Gangguan psikologis

* *Gangguan vestibular

Selain karena banyaknya kondisi yang dilaporkan sebagai pencetus (ataupun bersamaan dengan munculnya) tinnitus tantangan pada riset tinnitus berada pada kondisi yang sangat subjektive. Pada tinnitus yang umum terjadi, suara tinnitus hanya didengar oleh masing-masing pasien tinnitus, suaranyapun berbeda-beda dan unik. Hal ini membuat peneliti tidak memiliki tolak ukur yang tepat terhadap pemeriksaan tinnitus pasien, karena harus bergantung hanya kepada penjelasan dari pasien sendiri. Kondisi ini juga yang membuat tantangan pada saat peneliti ingin mengevaluasi berhasil tidaknya treatment yang diberikan kepada pasien.

Dari kondisi-kondisi yang sering dilaporkan, kehilangan/penurunan pendengaran ataupun paparan suara keras telah diidentifikasi sebagai faktor terbesar pada terjadinya tinnitus. Meskipun demikian, pada kenyataannya tidak setiap orang yang mengalami penurunan pendengaran memiliki tinnitus dan sebaliknya, tidak setiap orang yang mengalami tinnitus melaporkan mengalami penurunan pendengaran*. _(beberapa orang menggunakan istilah hidden hearing loss – yaitu penurunan pendengaran pada frekuensi tertentu yang mungkin tidak terperiksa pada pemeriksaan audiometri pada umumnya)._

Walapun sudah diketahui kondisi kebanyakan pada penderita tinnitus (berupa penurunan pendengaran tertentu). Hingga saat ini mekanisme terjadinya tinnitus **belum diketahui secara utuh** oleh para peneliti, sehingga penyembuhan ataupun penanganannyapun belum diketahaui secara pasti. Terdapat teori yang menyatakan bahwa tinnitus **melibatkan proses yang cukup kompleks yang terjadi dibeberapa bagian otak**. Hal ini yang mengakibatkan perusaaan obat ataupun solusi lainnya kesulitan dalam menentukan target dari treatment yang harus dilakukan untuk menangani tinnitus. 

Bagaimana membantu orang yang mengalami tinnitus 

Efek dari tinntitus dirasakan berbeda dari satu orang ke orang yang lain, bagi beberapa orang fenomena tinnitus dapat diabaikan, sedangkan bagi sebagian orang yang lain tinnitus dapat menjadi hal yang sangat mengganggu. Walaupun pada kenyataannya belum ada obat yang digunakan dan pasti dapat menyembuhkan tinnitus hingga sekarang, namun ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memanage kondisi tersebut. Hal tersebut antara lain melakukan prosedur medis untuk menangani masalah-masalah yang mungkin dapat menjadi penyebab tinnitus seperti contoh berikut :

* Apabila tinnitus disebabkan oleh infeksi, pemberian obat dapat menyembuhkan kondisi seperti infeksi yang terjadi pada pendengaran. 

* Apabila tinnitus disebabkan oleh gangguan aliran darah, dapat obat untuk gangguan kelainan aliran darah

* Apabila tinnitus disebabkan oleh kelainan postur leher, rahang, atau kepala, dapat dilakukan terapi atau obat untuk menangani kelainan ini.

* Apabila tinnitus disebabkan oleh hearing loss, maka usaha-usaha untuk mememulihkan hearing loss sebaiknya dilakukan terlebih dahulu

Langkah-langkah di atas dilakukan apabila setidaknya ada penyebab-penyabab yang terobservasi dari sisi medis dan dapat dicoba untuk ditangani terlebih dahulu. Sedangkan apabila tidak ada penyebab-penyebab yang terobservasi, langkah-langkah non medis dapat ditempuh untuk dapat mengatur tinnitus dengan lebih baik seperti mindfulness dan relaksasi. Dengan menguasai mindfulness dan relaksasi, pasien tinnitus diharapkan dapat memanage tinnitusnya dengan baik. Strategi lain yang lebih spesifik seperti CBT (Cognitive Behavioural Therapy) juga memiliki bukti keberhasilan dalam manajemen tinnitus. Dengan CBT pasien diajarkan untuk mengalihkan response negative ke tinnitus menjadi response yang lebih baik. Pasien diajarkan bahwa memiliki tinnitus tidak membatasi mereka dalam berkegiatan ataupun menjalani kehidupan.

Apa yang bisa diharapkan ke depan

Hingga saat ini penelitian dilakukan untuk menangani tinnitus, terdapat beberapa penelitian yang berbeda dalam menangani tinnitus ini. Sebagai contoh perusahaan seperti Frequency Therapeutics tengah berfokus kepada mekanisme untuk dapat menyembuhkan hearing loss, dengan mencari cara untuk dapat menumbuhkan kembali sel-sel rambut ditelinga yang rusak ketika hearing loss terjadi. Apabila sel-sel rambut sebagai sensor suara ini dapat tumbuh kembali, diharapkan tinnitus juga dapat sembuh. Sedangkan perusahaan lain seperti neuromod, berfokus kepada terapi untuk merubah response pendengaran pada otak melalui terapi bunyi dan stimulasi listrik tertentu. Terapi ini menggunakan bunyi yang diset pada timing dan frequensi tertentu, disertai dengan stimulasi listrik pada lidah pasien. Dalam penggunakan selama beberapa minggu diharapkan pasien tinnitus dapat mengalami sensasi tinnitus yang lebih minim dan merasa tinnitus tidak menganggu lagi.

Selain dari dua contoh di atas, penelitian-penelitian lain juga terus dilakukan dengan harapan untuk dapat memecahkan permasalahan mengenai tinnitus ini. Penelitian, baik dari sisi penyembuhan maupun dari sisi treatment atau penanganan terhadap tinnitus ini patut kita lihat secara optimis sebagai progress penanganan tinnitus yang lebih baik ke depannya. Mari berharap yang terbaik 🙂

Credit :

  1. https://theconversation.com/tinnitus-why-its-still-such-a-mystery-to-science-124021
  2. https://www.ata.org/understanding-facts/causes](https://www.ata.org/understanding-facts/causes

5 thoughts on “Mengapa Tinnitus Masih Menjadi Tanda Tanya Ilmu Pengetahuan”

  1. Wah bagus ada forum seperti ini,, saya juga penderita tinnitus sudah 5 bulan hingga sekarang.. Ternyata ak tidak sendirian..Semangattttt

  2. Salam kenal, saya juga menderita tinnitus sejak januari 2018. 3 tahun jalan dan masih bertahan, berharap serta tetap mencari kesembuhan. Semoga penelitian2 itu segera membuahkan hasil ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *