Tinnitus, Jangan Panik

Cerita ini dirangkum dari cerita Tinnitus yang dialami Steve Haynes, yang dishare dalam bentuk ebook berjudul Tinnitus, Jangan Panik!.

Steve Haynes mengalami tinnitus di hari natal tahun 2011, dia terbangun di kamar tidurnya dengan suara frequensi tinggi di salah satu telinganya. Dia langsung sadar kalau yang dia alami adalah tinnitus. Sebagai musikus dia sering membaca tentang bahaya yang dapat dialami jika terpapar suara keras pada waktu yang lama. Pikiran pertamanya adalah apakah ini untuk sementara? ataukah permanen?, Bagaimana dia bisa menjalani hari-harinya dengan tinnitus? Apa yang menyebabkannya?

Di awal tahun 2018, dia menulis ebook dari kapal kecilnya, tempat dia tinggal. Dia menikah lagi dan menjalani hidup yang menyenangkan. Di kebanyakan waktunya, dia sudah lupa bahwa dia punya tinnitus. Dia tidak ingat apakah dia punya tinnitus, sampai orang lain bertanya mengenai tinnitus kepadanya. Bahkan apabila dia cari-cari, dia akan dengan cepat melupakan tinnitusnya. Istilah yang digunakan adalah Habituated.

## Mencari Pertolongan

Yang dia lakukan pada awalnya adalah mencari pertolongan. Dia bergabung ke forum tinnitus dan menyampaikan kasus tinnitusnya, dari forum tersebut dia mendapatkan response dan menemukan orang-orang baik di forum tersebut. Beberapa orang juga mengalami kejadian yang mirip dengan yang dia alami, baginya dapat berkomunikasi dengan penderita tinnitus lain sudah merupakan terobosan tersendiri.

Selain bergabung ke dalam forum, Steve juga datang ke dokter untuk mengeliminir resiko-resiko terkait dengan tinnitus yang dia alami. Dia juga melakukan sesi konsultasi ke psikolog untuk mengidentifikasi apakah dia memiliki masalah psikologis. Tak hanya itu Steve juga mencoba pengobatan dari sisi spritiual. Pada dasarnya, nasihatnya bagi orang yang terkena tinnitus adalah jangan takut untuk mencari pertolongan.

## Volume Suara Tinnitus

Bagi steve suara tinnitusnya terasa mengeras kemungkinan karena anxiety yang dia alami bersamaan dengan tinnitus. Bagi sebagian orang dengan tinnitus, yang dapat membuat lega mungkin apabila terdapat pengurangan bunyi level tinnitus hingga tidak terdengar lagi. Akan tetapi bagi steve ini merupakan goal yang tidak realistis. Karena bagi dia, pada dasarnya tinnitus adalah suara. Dimana kita akan mendengar suara setiap hari, bahkan tidur sendirian dikamarpun, kita akan tetap mendengar suara nafas dan detak jantung sendiri. Dia juga membaca riset yang mengatakan bahwa jika ada orang yang dimasukkan ke dalam ruang kedap suara, maka orang ini akan mulai mendengar suara otak. Jadi apakah hanya volume ataukah ada juga anxiety dan stress yang berperan besar?

Sebagaimana dengan menjalani hidup, menghadapi sesuatu yang baru perlu dilakukan dalam tahapan-tahapan. Steve percaya bahwa dengan memahami kondisinya, mengurangi stress, dan mengurangi fokus ke Tinnitus adalah cara utama untuk menghadapi Tinnitus. 

## Memahami Tinnitus

Tinnitus merupakan sesuatu yang berbeda bagi satu orang dan orang yang lain. Bagi Steve dia memahami bahwa volume tinnitusnya terasa diperbesar oleh beberapa hal.

* Eksternal stress : dia menemukan bahwa apapun yang dapat memicu stress bagi tubuhnya, akan membuat tinnitusnya terasa memburuk. Sehingga bagi dia, mencari cara mengurangi stress akan sangat membantu.

* Emotional state (Kondisi Emosional) : menggunakan logika yang dimiliki untuk menimbulkan ketenangan emosional. Hal ini membutuhkan waktu dan latihan, namun setelah bagian emosional kita mulai tenang, maka demikian juga dengan tinnitus.

* Obsessive behaviour (Negative focus) : steve memiliki tendensi untuk terobsesi (terfokus) kepada sesuatu. pada penyelesaian pekerjaan memang ini menjadi hal yang bermanfaaat, namun demikian lain halnya apabila terfokus kepada kondisi penyakit. (Mengurangi fokus terhadap penyakit akan sangat membantu, fokuslah kepada hal lain dalam hidup)

Berbicara kepada orang lain dengan kondisi yang sama akan sangat membantu, kalau pada awalnya kamu merasa sangat sendirian, maka kamu akan menyadari bahwa ada orang lain dengan kondisi yang sama. Satu yang perlu dicatat ketika berbagi dengan orang lain adalah tetap menghindari mendegarkan hal-hal negative (negativity).

Steve percaya bahwa goal akhirnya yang dapat dicapai semua orang adalah mencapai titik dimana Tinnitus tidak lagi menjadi bagian hidup seseorang. Steve percaya ini dapat dicapai namun memang hal ini membutuhkan waktu dan tahapan-tahapan.

## Mengurangi Stress

Apa yang dilakukan Steve berikutnya adalah mengurangi stress. Dia memulai dengan menyusun rencana dan hal-hal yang akan dia lakukan yang menurutnya sesuai dengan kepribadian atau personalitynya. Selain melakukan hal-hal yang disukai, bagi beberapa orang lain, menjaga diri dengan pekerjaan-pekerjaan positif juga merupakan hal yang dapat mengalihkan perhatian dari Tinnitus. 

Steve menemukan bahwa (olahraga) berjalan-jalan sangat bermanfaat baginya. Suara natural yang ada membantu mengaburkan suara tinnitus dan olahraga yang dilakukan membantunya untuk menjadi lebih semangat.

Steve juga menemukan bahwa cara pandang positif (gelas setengah penuh alih alih gelas setengah kosong) sangat membantu. Dari pada berfokus pada kekurangan lebih baik fokus terhadap apa yang masih dimiliki. 

## Fokus

Steve menyadari bahwa dengan pada dasarnya manusia hanya bisa fokus pada hal tertentu saja. Ketika kita melakukan sesuatu hal yang kita sukai kita cenderung tidak menyadari hal-hal lain yang terjadi disekitar kita. Bahkan pada awal terkena tinnitus steve menyadari bahwa ada saat-saat dimana dia tidak memikirkan tinnitusnya sama sekali, bagaimana kalau saat-saat tersebut berlangsung lebih lama, berganti menjadi beberapa jam, beberapa hari, ataupun beberapa minggu. Siapa tau dia bisa mengabaikan Tinnitus sama sekali!. Bagi steve rasa kepercayaan dirinya yang terus tumbuh setiap kali dia merakasan ‘silence periode’ (waktu dimana dia tidak menyadari tinnitusnya) adalah kemajuan besar.

Terakhir Steve merangkum tahapan-tahapan yang dia lalui hingga dia bisa menjalani hidup dengan bahagia kembali.

### Tahap 1

#### Tanda : panik. terobsesi terhadap tinnitus dan tendensi untuk ingin mengecek suara tinnitus

yang dilakukan : 

  • Bertemu dokter untuk menghilangkan kekhawatiran terkait masalah kesehata lain (memeriksakan masalah kesehatan yang lain)
  • Berbagi tentang tinnitus kepada sesama orang yang kena tinnitus, memahami bahwa kondisi tinnitus cukup umum dialami orang
  • Menggunakan pengayaan suara untuk menyamarkan tinnitus 
  • Belajar mengelola dan meminimalisir emosi negativemenjaga kesibukan
  • Mencari cara-cara untuk mengurangi stress dan membuat rencana-rencana kegiatan

### Tahap 2

#### Pengamatan : Mengalami saat-saat tidak menyadari tinnitus. Beberapa menit berlalu tanpa menyadari tinnitus

yang dilakukan :

  • Mulai percaya diri bahwa ada saat-saat tidak memikirkan/menyadari tinnitus
  • Mulai menyadari bahwa tinnitus tidaklah membahayakan
  • Menyadari bahwa saat-saat tidak menyadari tinnitus bertambah lama apabila sedang terfokus kepada hal lain. 
  • Belajar untuk fokus kepada hal-hal lain
  • Melepaskan emosi dari tinnitus
  • Mengabaikan apabila ada perubahan suara tinnitus, apabila ada suara baru anggap saja seperti biasa.

### Tahap 3

#### Pengamatan : Saat-saat tidak menyadari tinnitus menjadi semakin lama

Beberapa jam berlalu tanpa menyadari tinnitus, Steve mulai percaya bahwa otak dapat beradaptasi dan menyesuaikan dirinya sendiri. Steve mulai dapat menikmati aktivitas-aktivitasnya tanpa terganggu tinnitus.

yang dilakukan :

  • Meningkatkan rasa percaya diri bahwa bisa mengabaikan tinnitus dalam waktu yang semakin lama
  • Level kecemasan menurun
  • Mulai mengurangi penggunaan pengayaan suara (tinnitus masker) yang selama ini dipakai
  • Belajar memikirkan hal-hal yang baik sebelum tidur

### Tahap 4

#### Pengamatan : Mulai kembali ke kehidupan normal

Tinnitus tidak lagi menyita perhatian, beberapa hari kadang berlalu tanpa memikirkan ataupun menyadari adanya tinnitus. Ketika menyadari adanya tinnitus, steve percaya bahwa apabila ia melakukan hal yang lain maka tinntitusnya juga akan menghilang dari kesadarannya sebagaimana biasanya

yang dilakukan :

  • Belajar menikmati waktu (bersantai) tanpa melakukan kesibukan/pekerjaan tertentu.

### Tahap 5

#### Pengamatan : Kembali ke kehidupan normal

Steve telah sepenihnya menjalani kehidupan normal yang bahkan lebih baik dari sebelumnya. Dia telah mengurangi hal-hal yang membuat dia stress dan tinnitusnya juga sangat jarang dia ingat/sadari. Dia dapat bersantai tanpa takut mendengar suara tinnitusnya. Apabila dia mendegarnyapun, dia percaya bahwa dia bisa mengabaikannya kembali dengan cepat.

yang dilakukan :

  • Belajar menikmati hidup
  • Tetap berpikir positif dan berusaha menghilangkan hal-hal yang membuat down.
  • Bersyukur tiap hari. Hidup sangat spesial jadi belajarlah untuk memaksimalkannya
  • Jika ada yang tanya mengenai tinnitus maka dia jawab. “Tinnitus?, aku sudah lupa kalau aku punya”

Sumber : https://sites.google.com/site/tinnitusnopanic/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *